Kecerdasan anak

Alasan Perlunya Mengaktivasi Otak Tengah

Kompas.com - 21/06/2010, 09:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun biayanya cukup mahal, program pelatihan aktivasi otak tengah atau mid brain activation belakangan ini mampu menyita perhatian para orangtua di kota-kota besar. Apa menariknya?

Menurut penyelenggara pelatihan, mid brain activation dianggap mampu meningkatkan daya konsentrasi anak. Pada umumnya, seperti disebutkan dalam www.otaktengah.com, otak tengah merupakan penghubung otak tengah dan otak kiri, dan tidak aktif pada sebagian besar orang dewasa. Dengan pengaktifan otak tengah, anak bisa berkonsentrasi lebih lama dan pada tingkat yang lebih tinggi.

Aktivasi otak tengah adalah suatu penemuan fenomenal dalam pendidikan anak. Dan sebenarnya, teori penggunaan otak tengah ini telah banyak dilakukan pada banyak negara di Asia, terutama Jepang.

Jepang telah lama melakukan praktik aktivasi otak tengah pada anak-anak. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengah akan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang otak tengahnya belum diaktivasi.

Praktik aktivasi

Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (mid brain activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap.

Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama dua hari.

Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah "melihat" kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9), misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna, dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (skin vision).

Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang bahkan sengaja menghalangi jalan di depannya.

Apa yang terjadi? Si anak serta-merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Dia bahkan dapat mengenali ayahnya di antara kerumunan orangtua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.

Pada tingkatan yang lebih lanjut, seorang anak diharapkan dapat "melihat" benda di balik tembok atau di dalam kotak. Ia bahkan dapat menghitung uang yang terdapat di dalam dompet seseorang di hadapannya tanpa orang tersebut mengeluarkan dompetnya. Jika seorang anak rajin melatih fungsi otak tengahnya, bahkan dia dapat mengharapkan membaca dokumen yang terletak dalam posisi tertutup.

Selain itu, kemampuan prediksi atau memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian adalah kemampuan lebih tinggi yang dapat dimiliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat "menduga" kartu yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti "dugaan" sang anak tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau